jump to navigation

Semua Tersangka Kericuhan di Kelenteng, Dikejar Mei 31, 2008

Posted by thiangiekiong in news.
add a comment
Jumat, 30 Mei 2008
Semua Tersangka Kericuhan di Kelenteng, Dikejar
AKP Andrias : Rudi Itu Tersangka, Bukan Saksi
SAMARINDA. Kapolsekta Samarinda Utara AKP Andrias Susanto Nugroho SIK menegaskan bahwa dirinya sudah menempuh prosedur yang benar dalam menyikapi kasus keributan di dalam Kelenteng Tridharma, Jl Yos Sodarso, Samarinda Ilir, beberapa waktu lalu.”Saya merasa sudah melakukan prosedur hukum yang benar,” tegasnya.

Penegasan ini dilontarkannya menanggapi terjadinya protes yang dilakukan sejumlah warga dan pengurus Kelenteng Tridharma lantaran tidak bisa menerima keputusan Kapolsekta Samarinda Utara AKP Andrias Susanto Nugroho SIK yang melakukan penahanan terhadap seorang pemuda bernama Rudiansyah alias Rudi (18), salah seorang kerabat Tjia Joen Gioe alias Jun (56) yang juga diketahui menjadi korban pengeroyokan dalam keributan di Kelenteng Tridharma, Jl Yos Sudarso, Samarinda Ilir, beberapa waktu lalu.

Andrias menegaskan status Rudi adalah sebagai salah satu tersangka dalam keributan tersebut.

“Rudi itu tersangka, bukan saksi. Jadi tidak benar jika ada yang mengatakan Rudi dipanggil sebagai saksi. Dia kami jerat dengan UU Darurat tahun 1951 tentang senjata tajam,” tegas perwira polisi lulusan Akpol tahun 1999 ini.

Dengan tegas pula ia mengatakan bakal melakukan penyelidikan terkait kasus keributan tersebut.

“Semua tersangkanya, akan kami kejar dan tangkap semua. Siapapun yang terlibat. Sementara ini anggota saya masih melakukan penyelidikan,” tegas Andrias lagi.

Seperti diketahui, puluhan warga yang tergabung sebagai pengurus dan anggota Kelenteng Tridharma di Jl Yos Sudarso, Samarinda Ilir, Rabu (29/5) malam kemarin, sekitar pukul 23.00 wita, datang berbondong-bondong ke Polsekta Samarinda Utara.

Kedatangan puluhan warga ini bermaksud menanyakan soal prosedur hukum yang diambil pihak Polsekta Utara.

Pasalnya, puluhan warga tersebut merasa keberatan polisi mengamankan seorang pemuda bernama Rudiansyah (18). Pasalnya, mereka mengatakan bahwa Rudi dipanggil sebagai saksi dari pihak korban, dalam kasus keributan di Kelenteng Tridharma, beberapa waktu lalu.

“Rudi ini dipanggil sebagai saksi dari pihak saya. Saya ini menjadi korban pengeroyokan, tapi kok saksi saya yang ditahan. Saya yang laporan, tapi kenapa saksi yang melihat saya dikeroyok yang ditahan, bukannya pelaku pengeroyokannya, kan aneh,” ucap Tjia Joen Gioe alias Jun (56) yang ditemui Sapos di Polsekta Samarinda Utara, Rabu malam kemarin.

Jun sendiri merasa heran dengan keputusan polisi yang sempat mengamankan Rudi. Bahkan Rudi diamankan di dalam sel titipan.

“Statusnya kan hanya sebagai saksi, bukan tersangka, kenapa di kurung di dalam sel, meski hanya sel titipan. Saya dengar dia malah mau dijadikan tersangka karena saat kejadian sempat membawa besi,” jelas Jun lagi.

Jun mengatakan saat kejadian Rudi memang sempat membawa besi, saat beberapa orang menyerang masuk ke dalam kelenteng.

“Dia membawa besi karena melihat dari pihak penyerang yang masuk ke dalam kelenteng membawa pisau. Makanya dia bawa besi. Tapi besi itu sendiri hanya dipegang dan tak pernah dipukulkan kepada orang lain,” jelas Jun lagi.(uya)

source : http://www.sapos.co.id/berita/index.asp?IDKategori=74&id=100434

Upacara Sembahyang bersama Hari Raya Tri Suci Waisaka ke-2552 Mei 12, 2008

Posted by thiangiekiong in invitation.
add a comment

WEI DE DONG TI’AN

Hanya kebajikan Tuhan berkenan

Bersama surat ini, kami Pengurus Perkumpulan Kelenteng Thian Gie Kiong Samarinda mengundang Daoqin untuk menghadiri Upacara Sembahyang Bersama dalam rangka memperingati Hari Raya Tri Suci Waisaka ke-2552, yang akan dilaksanakan pada :

hari/tanggal : selasa, 20 Mei 2008 (Imlek Shi Gwee 16,2559)

Jam : 18:30 Wita (malam)

tempat : kelenteng Thian Gie Kiong, jalan Yos Sudarso 21 Samarinda

acara :

1. Sembahyang bersama

2. Perjamuan sederhana

Demikian undangan kami, atas perhatian serta kehadiran Daoqin terlebih dahulu kami haturkan terima kasih.

Samarinda, 1 Mei 2008

BP. Perkumpulan Kelenteng Thian Gie Kiong

Ketua II : Hermanto Thio

Sekretaris : Tundra Kosasih

nb :

1. harap hadir 15 menit sebelumnya

2. pengurus berseragam batik qilin

3. mohon diteruskan kepada umat yang belum menerimanya, undangan ini terbuka untuk seluruh umat

kelenteng.

Sembahyang bersama memperingati kelahiran Yang Mulia Makco Thian Siang Sing Bo April 27, 2008

Posted by thiangiekiong in invitation.
add a comment

Wei De Dong Thian,

Perkumpulan Kelenteng Thian Gie Kiong Samarinda mengundang kepada seluruh umat kelenteng Thian Gie Kiong untuk menghadiri upacara sembahyang bersama dalam rangka memperingati kelahiran Yang Mulia Makco Thian Siang Sing Bo, yang akan dilaksanakan pada :

Hari / Tanggal : Senin, 28 April 2008 / Sa Gwe 3 2559

Jam                  : 06.00 Wita (pagi)

Tempat           : Kelenteng Thian Gie Kiong, jalan Yos Sudarso 21 Samarinda

acara :

  1. Sembahyang bersama
  2. Perjamuan sederhana

demikian undangan kami, atas perhatian serta kehadirannya, terlebih dahulu kami haturkan terima kasih.

BP. Perkumpulan Kelenteng Thian Gie Kiong

Ketua II Hermanto Thio

Sekretaris Tundra Kosasih

Dari perayaan Imlek 2559 bersama IKMTS Februari 18, 2008

Posted by thiangiekiong in Uncategorized.
add a comment

Plt. Gubernur Kaltim Yurnalis Ngayoh menyempatkan diri menghadiri perayaan Imlek di kelenteng Thian Gie Kiong yang disponsori oleh IKMTS (Ikatan Kaum Muda Thionghoa Samarinda). Dihadapan warga Tionghoa yang jumlahnya kurang lebih 1.000 orang, Ngayoh meminta, etnis Tionghoa jagnan menjadi orang asing di Bumi Etam, sejak menurut sejarah keberadaan mereka sudah ada semenjak zaman kerajaan. “Jadi pada kesempatan in, saya mengajak warga Tionghoa, sama-sama membangun Kaltim. Sebab kita tengah giat-giatnya membangun daerah ini, termasuk kawasan perbatasan, yang memang tengah tertinggal pembangunannya,” katanya. Ia juga meminta, agar dibina jalinan silaturahmi. Menurutnya, sebenarnya tak perlu ada yang dipermasalahkan. karena selama ini warga Tionghoa mampu hidup berdampingan secara harmonis denga masyarakat lainnya, secar rukun dan damai. Harusnya ini menjadai modal dasar, untuk terus dipertahankan dan tidak dipecah-belah. Apalagi Kaltim akan menghadapi event-event besar yang memerlukan keompakan semua pihak. Yang dimaksud Ngayoh adalah pelaksanaan pemilihan Gubernur (Pilgub) dan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVII yang waktunya tidak terlalu jauh berbeda. Di sini tuntutan kedewasaan masyarakat Kaltim dalam berdemokrasi. Akan menjadi sebuah prestasi , jika keduanya mampu berjalan lancar dan damai. Ini kredit point bagi Kaltim, mampu menyelnggarakan kegiatan akbar secara damai dan kondusif, itu akan mengarah pada minat investasi di Kaltim,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Kepala Departemen Agama Kaltim, Farid Wadjdi meminta kepada warga Tionghoa di Kaltim agar bisa menjaga kerukunan antar umat beragama di Kaltim, khususnya di kota Samarinda. Ia mengatakan di Indonesia ada beberapa agama yang diakui pemerintah, untuk itu dengan adanya perayaan Imlek bersama diharapkan dapat meningkatkan dan mampu menjaga hubungan antar umat beragama tidak saling mendiskriditkan agama lain.”Saya berharap ke depan warga Tionghoa bergandeng tangan bersama-sama warga lainnya membangun Kaltim ke arah yang lebih baik,” ujarnya.

Dibagian lain ketua panitia perayaan Imlek ke 2559, Jonathan menambahkan, tujuan penyelenggaraan perayaan Imlek ini buat mempererat persaudaraan dan persatuan warga Samarinda khususnya di kalangan warga Tionghoa. Bahkan kesederhanaan perayaan Imlek itu terlihat dari ditampilkannya musik hiburan dan kesenian Barongsai.

source : koran Samarinda Pos 18 Februari 2008.

Delapan Pengakuan Iman September 19, 2007

Posted by thiangiekiong in confucius.
add a comment

1. Sepenuh iman percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa

2. Sepenuh iman menjunjung kebajikan

3. Sepenuh iman menegakkan firman gemilang

4. Sepenuh iman menyadari adanya nyawa dan roh

5. Sepenuh iman memupuk cita berbakti

6. Sepenuh iman mengikuti genta rohani nabi Kongzi

7. Sepenuh iman memuliakan kitab Su Si

8. Sepenuh iman menempuh jalan suci

Hari Kelahiran Xuan Tian Shang Di April 15, 2007

Posted by thiangiekiong in dewa-dewi.
1 comment so far

Dalam sejarahnya Xuan Tian Shang Di/Hian Thian Siang Tee juga dikenal sebagai Xuan Wu atau sering disebut juga dengan nama Zhen Wu Da Di, ini dikaitkan dengan Wu Dang Shan sebagai domisili berkali penitisan, dan klentengnya sering dihubungkan dengan Bei Ji tempat Bintang Utara.
Disebut juga Shang Di Gong/ Siang Tee Kong.
Xuan Tian Shang Di dipuja karena sebagai pembawa pesan ilahi, sebagai pengawas/penilai dalam kehidupan, melindungi dari dunia gelap, penakluk segala setan dan siluman, menjadi Shen Ming yang dipuja umat Tao.
Xuan Tian Shang Di sering ditampilkan sebagai seorang Dewa yang memakai pakaian keemasan, tangan kanannya menghunus pedang penakluk siluman, kedua kakinya tanpa sepatu menginjak kura-kura dan ular. Wajahnya gagah berwibawa dihias dengan jenggot panjangdan rambutnya terurai kebelakang lepas, tidak terikat dan yang khas dalam penampilan-Nya adalah warna hitam dan lambang Tai Ji, Yin Yang, Ba Gua.
Persembahyangan untuk Xuan Tian Shang Di tiap:
Tanggal 3 bulan 3 Imlek : Hari kelahirannya
Tanggal 9 bulan 9 Imlek : Hari kenaikannya/kesaktiannya.

Xuan Tian Shang Di [Hian Thian Siang Te – Hokkian] adalah salah satu Dewa yang paling populer, wilayah pemujaannya sangat luas, dari Tiongkok utara sampai selatan, Taiwan, Malaysia dan Indonesia.

Pemujaan terhadap Xuan Tian Shang Di ( ) mulai berkembang pada masa Dinasti Ming. Dikisahkan pada masa permulaan pergerakannya, Zhu Yuan Zhang (pendiri Dinasti Ming), dalam suatu pertempuran pernah mengalami kekalahan besar, sehingga ia terpaksa bersembunyi di pegunungan Wu Dang Shan (Bu Tong San – Hokkian], di propinsi Hubei, dalam sebuah kelenteng Shang Di Miao.

Berkat perlindungan Shang Di Gong (sebutan populer Xuan Tian Shang Di), Zhu Yuan Zhang dapat terhindar dari kejaran pasukan Mongol yang mengadakan operasi penumpasan besar-besaran terhadap sisa-sisa pasukannya. Kemudian berkat bantuan Xuan Tian Shang Di ( ), maka Zhu Yuan Zhang berhasil mengusir penjajah Mongol dan menumbangkan Dinasti Yuan. Ia mendirikan Dinasti Ming, setelah mengalahkan saingan-saingannya dalam mempersatukan Tiongkok.

Untuk mengenang jasa-jasa Xuan Tian Shang Di ( ) dan berterima kasih atas perlindungannya, ia lalu mendirikan kelenteng pemujaan di ibu kota Nanjing (Nanking) dan di gunung Wu Dang Shan.

Sejak itu Wu Dang Shan menjadi tempat suci bagi penganut Tao. Kelentengnya, dengan patung Xuan Tian Shang Di ( ) juga diangkat sebagai Dewa Pelindung Negara. Tiap tahun tanggal 3 bulan 3 Imlek ditetapkan sebagai hari She-jietnya dan tanggal 9 bulan 9 Imlek adalah hari beliau mencapai kesempurnaan dan diadakan upacara sembahyangan besar-besaran pada hari itu.

Sejak itulah pemujaan Shang Di Gong meluas ke seluruh negeri, dan hampir setiap kota besar ada kelenteng yang memujanya.

Di Taiwan pada masa Zheng Cheng Gong berkuasa, banyak kelenteng Shang Di Gong didirikan. Tujuannya adalah untuk menambah wibawa pemerintah, dan menjadi pusat pemujaan bersama rakyat dan tentara. Oleh sebab itu, maka kelenteng Shang Di Miao tersebar diberbagai tempat. Diantaranya yang terbesar adalah di Taiwan yang dibangun pada waktu Belanda berkuasa di Taiwan.

Setelah jatuhnya Zheng Cheng Gong, Dinasti Qing yang berkuasa mendiskreditkan Shang Di Gong dengan mengatakan bahwa beliau sebetulnya adalah seorang jagal yang telah bertobat. Usaha ini mempunyai tujuan politik yaitu melenyapkan dan mengkikis habis sisa-sisa pengikut Dinasti Ming secara moral, dengan memanfaatkan dongeng aliran Buddha tentang seorang jagal yang telah bertobat lalu membelah perutnya sendiri, membuang seluruh isinya dan menjadi pengikut Buddha. Kura-kura dan ular yang diinjak itu dikatakan sebagai usus dan jeroan si jagal.

Pembangunan kelenteng-kelenteng Shang Di Miao sejak itu sangat berkurang. Pada masa Dinasti Wing ini pembangunan kelenteng Shang Di Miao hanya satu, yaitu Lao Gu She Miao di Tainan. Tetapi sebetulnya kaisar-kaisar Qing sangat menghormati Xuan Tian Shang Di ( ), ini terbukti dengan dibangunnya kelenteng pemujaan khusus untuk Shang Di Gong di komplek kota terlarang, yaitu Istana Kekaisaran di Beijing, yang dinamakan Qin An Tian dan satu lagi di Istana Persinggahan di Chengde.

Mengenai riwayat Xuan Tian Shang Di ( ) ini, seorang pengarang yang hidup pada akhir Dinasti Ming, Yu Xiang Tou telah menulis sebuah novel yang bersifat dongeng yang berjudul “Bei You Ji” atau “Catatan Perjalanan Ke Utara”.

Adapun ringkasan riwayat Xuan Tian Shang Di ( ) seperti yang dikisahkan dalam novel tersebut adalah sebagai berikut:

Lahir pada keluarga Liu. Ayahnya Liu Tian Jun, kemudian memberi nama Zhang Sheng yang berarti “Tumbuh Subur”. Liu Zhang Sheng tumbuh menjadi anak yang cerdas. Pada usia tiga tahun ia sudah dapat membawakan sajak dan membuat syair.

Kembali Liu Zhang Sheng menitis di dunia, kali ini menjadi seorang putra raja yang bernama Xuan Ming. Karena kegagahannya Xuan Ming akhirnya diangkat menggantikan ayahnya yang wafat dan menjadi raja di negeri itu. Pada suatu hari Miao Le Tian Zun [Biauw Lok Thian Cun – Hokkian] datang dan mendidiknya memahami masalah kedewaan.

Titisan berikutnya adalah sebagai seorang putera raja di negeri Jing Luo Guo [Ceng Lok Kok – Hokkian] yang bernama Xuan Yuan Tai Zi.

Setelah melewati beberapa ujian dalam hidupnya, Xuan Yuan berhasil mencapai kesempurnaan dan menjadi Dewa dengan gelar Xuan Tian Shang Di ( ).

Selanjutnya dikisahkan Xuan Tian Shang Di ( ) turun ke bumi menaklukkan berbagai siluman, antara lain siluman ular dan kura-kura, yang kemudian menjadi pengikutnya. Disamping itu seorang tokoh dunia gelap Zhao Gong Ming [Tio Kong Bing – Hokkian] juga ditaklukkan dan menjadi pengawalnya, sebagai pembawa bendera berwarna hitam.

Kelenteng Xuan Tian Shang Di ( ) yang pertama di Indonesia adalah Kelenteng Welahan, Jawa Tengah. Di Semarang sebagian besar kelenteng ada tempat pemujaan untuknya, sedangkan yang khusus memuja Xuan Tian Shang Di ( ) sebagai tuan rumah adalah Kelenteng Gerajen dan Bugangan. Untuk di Kalimantan juga ada di Samarinda yaitu kelenteng Thian Gie Kiong.

qingming April 5, 2007

Posted by thiangiekiong in april.
add a comment

festival qingming hanzi tradisional: 清明節; sederhana: 清明节; pinyin: qīng míng jié) atau di Indonesia lebih dikenal sebagai Ceng Beng (bahasa Hokkien) adalah ritual tahunan etnis Tionghoa untuk bersembahyang dan ziarah ke kuburan sesuai dengan ajaran Khonghucu. Ceng Beng dianggap sama pentingnya dengan upacara sembahyang peringatan hari wafat orangtua dan luluhur. Di samping Imlek dan Cap Go Me, Ceng Beng adalah hari raya Tionghoa lainnya yang juga tidak pernah luput dirayakan, yang jatuh pada tiap tanggal 5 April.

Tradisi Ceng Beng melestarikan perintah Kaisar Chu Goan Chiang agar rakyatnya mencari dan membersihkan kuburan sanak keluarganya yang tak diketahui keberadaannya.

Ceng Beng diambil dari kata ceng (terang) dan beng (jernih). Karena hari tersebut musim semi di Tiongkok (Cina), maka merupakan kesempatan yang paling baik untuk mengunjungi thiong (pemakaman umum). Sembari membawa hio (dupa batangan untuk sembahyang), warga Tionghoa nyekar di bong (makam) untuk merayakan pertemuan dengan keluarga yang sudah meninggal.

Tiga hari sebelum ceng beng, makam-makam itu sudah harus dibersihkan. Rumput dan alang-alang dipotong, batu nisan dan bangunan sekelilingnya disikat bersih dengan air dan sabun. Pokoknya saat nyekar sudah harus bersih. Saat ini, karena pemakaman-pemakaman Tionghoa sudah banyak tergusur, mereka pergi ke ke tempat-tempat penitipan abu jenazah. Termasuk ke krematorium di pantai Dadap (perbatasan Jakarta-Tangerang) dan Cilincing. Namun, masih ada pula yang pergi ke pemakaman-pemakaman Tionghoa yang masih tersisa, seperti di Karawaci (Tangerang), Kebon Nanas (Jakarta Timur), Petamburan (Jakarta Pusat), dan Bogor.

Saat berziarah, warga Tionghoa membawa makanan berupa ketupat dan lepet, yang sudah dimasak dua hari sebelumnya. Sehari sebelum ceng beng merupakan hari bebas api. Selama sehari penuh di rumah-rumah tidak diperbolehkan ada api menyala. Tradisi ini punya kaitan dengan peristiwa di negeri leluhur Tiongkok.

Konon, kala itu ada seorang pangeran yang karena difitnah terpaksa meninggalkan istana. Selama pembuangan dan pengembaraan yang panjang, di antara pengikut pangeran itu terdapat seorang pembesar yang sangat setia. Begitu setianya pembesar ini hingga pernah memotong daging pahanya untuk santapan sang pangeran. Sayangnya, ketika pangeran kembali menjadi raja, Kai Cu Tai –nama pengikut setianya– terlupakan.

Raja yang kemudian diingatkan hal itu akhirnya mengerahkan rakyatnya untuk mencarinya. Karena tidak berhasil, ia pun memerintahkan untuk membakar hutan agar pengikut setianya itu keluar. Tragisnya, orang yang dicari-cari itu ditemukan dalam keadaan terpanggang sambil memeluk ibunya yang telah tua. Raja yang bersedih akhirnya memerintahkan rakyat untuk tidak menyalakan api sehari sebelum ceng beng, sebagai tanda duka. Karenanya, ceng beng juga disebut hari raya makan sajian dingin.

Sesuai kepercayaan mereka, keharusan mengunjungi makam leluhur di hari ceng beng merupakan wujud bakti seorang anak terhadap orang tua dan leluhurnya. Menurut ajaran Khonghucu, bakti ini harus diwujudkan selama mereka hidup dan sesudah meninggal. Bagi orang Tionghoa, bakti seorang anak terhadap orang tua/leluhur dianggap kebajikan paling utama.

Anak harus menghormati orang tua dan tidak mempermalukannya. Tidak terbatas pada generasi yang masih hidup tetapi juga nenek moyang yang sudah tiada. Anak yang berbakti (hua) –dalam versi mereka– dikasihi dan diberkati thian (Tuhan). Sebaliknya anak yang durhaka (put hau), dianggap sangat terkutuk karena melupakan jasa-jasa orang tua.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.